Pernahkah Anda berada di tengah keramaian, tetapi bingung memulai percakapan? Mungkin Anda ingin menyapa teman baru, tetapi khawatir salah bicara. Atau, Anda justru menikmati waktu sendiri dan merasa lelah setelah menghadiri acara yang ramai. Orang lain mungkin menganggap kedua pengalaman itu sebagai tanda “sulit bersosialisasi”, padahal setiap orang memiliki kebutuhan dan pengalaman yang berbeda.
Kesulitan bergaul tidak selalu menandakan gangguan kesehatan mental. Sebagian orang membutuhkan waktu lebih lama untuk akrab. Sebagian lainnya sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Ada juga orang yang merasakan kecemasan begitu kuat hingga memilih menghindari kegiatan penting. Ketika memahami perbedaan tersebut, kita bisa menentukan langkah yang sesuai tanpa terburu-buru memberi label kepada diri sendiri.
Dalam artikel ini, kita akan membahas hubungan kesehatan mental dan kehidupan sosial, mengenali hambatan komunikasi, mencoba latihan sederhana untuk membangun hubungan, serta memahami kapan kita perlu mencari bantuan profesional.
Apa yang Dimaksud dengan Sulit Bersosialisasi?
Kita menggunakan istilah “sulit bersosialisasi” dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan hambatan saat seseorang ingin membangun atau menjaga hubungan dengan orang lain. Seseorang mungkin kesulitan menyapa orang baru, menyampaikan pendapat, mengikuti percakapan kelompok, atau mempertahankan pertemanan.
Namun, istilah tersebut bukan diagnosis medis. Dua orang yang sama-sama pendiam bisa memiliki alasan berbeda. Seseorang mungkin lebih menyukai waktu sendiri karena merasa nyaman, sedangkan orang lain sebenarnya ingin bergaul tetapi sangat takut menerima penilaian negatif atau mengalami perlakuan yang mempermalukannya.
Karena itu, daripada langsung bertanya, “Apakah saya orang yang sulit bergaul?”, cobalah bertanya, “Situasi apa yang terasa sulit bagi saya, mengapa saya mengalaminya, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan saya?”
Hubungan Kesehatan Mental dan Kehidupan Sosial
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa kesehatan mental membantu seseorang menghadapi tekanan, mengembangkan kemampuan, belajar, bekerja, dan berkontribusi dalam masyarakat. Kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya gangguan mental. Lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan dukungan orang sekitar juga memengaruhi kesejahteraan seseorang. [1]
Hubungan Sosial yang Aman dan Suportif
Kesehatan mental dan kehidupan sosial saling memengaruhi. Ketika menghadapi stres berat, kesedihan, atau kecemasan, seseorang mungkin kesulitan berbicara dan berinteraksi. Sebaliknya, hubungan yang aman dan suportif dapat membantunya menghadapi masa sulit. Namun, kita tidak bisa menilai kesehatan mental hanya dari jumlah teman. Orang yang memiliki sedikit teman pun tetap dapat membangun hubungan yang bermakna.
Memahami Orang Lain Tanpa Memberi Label
Jangan langsung menganggap orang yang jarang berbicara memiliki masalah kesehatan mental. Seseorang mungkin memilih diam karena kebiasaan, suasana hati, lingkungan, atau kebutuhan untuk beristirahat. Kita akan lebih memahami orang lain jika memperhatikan konteks daripada sekadar menilai penampilan luarnya.
Perbedaan Pemalu, Introvert, dan Gangguan Kecemasan Sosial
Banyak orang menggunakan ketiga istilah ini secara bergantian, padahal masing-masing memiliki makna berbeda.
Pemalu: Merasa Canggung Saat Bertemu Orang Baru
Orang yang pemalu mungkin merasa canggung ketika bertemu orang baru atau menjadi pusat perhatian. Ia bisa membutuhkan waktu sebelum merasa nyaman. Namun, rasa malu tidak selalu menghambat sekolah, pekerjaan, atau hubungan sehari-hari. Kita juga tidak dapat menganggap rasa malu sebagai diagnosis gangguan mental.
Introvert: Menikmati Waktu Sendiri
Istilah introvert menggambarkan kecenderungan seseorang untuk menikmati waktu sendiri dan memilih intensitas interaksi yang sesuai dengan kebutuhannya. Seorang introvert tetap dapat berkomunikasi dengan baik, memiliki sahabat, dan berbicara di depan umum. Ketika seseorang menyukai kesendirian, hal itu tidak otomatis berarti ia takut menghadapi situasi sosial.
Gangguan Kecemasan Sosial: Merasa Sangat Takut terhadap Penilaian Orang Lain
Orang yang mengalami gangguan kecemasan sosial atau fobia sosial merasakan ketakutan yang kuat terhadap kemungkinan orang lain menilai, mempermalukan, atau menolaknya dalam situasi sosial. Ia mungkin merasakan kecemasan hebat sebelum menghadiri kegiatan, menghindari percakapan, atau mengalami gejala fisik seperti gemetar, berkeringat, dan jantung berdebar. Jika rasa takut terus muncul dan mengganggu kehidupan sehari-hari, tenaga kesehatan perlu melakukan penilaian lebih lanjut. [2][3][4]
Kementerian Kesehatan, NIMH, dan NHS menekankan pentingnya membedakan kecemasan sosial yang mengganggu aktivitas dari rasa gugup biasa. Kita tidak bisa menegakkan diagnosis hanya berdasarkan satu gejala, pendapat teman, atau hasil kuis internet. [2][3][4]
Mengenali Kebutuhan Sosial Diri Sendiri
Untuk refleksi awal, tanyakan tiga hal kepada diri sendiri: Apakah saya ingin berinteraksi? Apakah rasa takut menghalangi saya? Apakah kesulitan ini mengganggu kegiatan penting? Gunakan pertanyaan tersebut untuk memahami pengalaman Anda, bukan untuk mendiagnosis diri sendiri.
Faktor yang Membuat Seseorang Sulit Bergaul
Tidak ada satu penyebab yang menjelaskan semua kesulitan bersosialisasi. Beberapa keadaan berikut dapat ikut memengaruhi pengalaman seseorang.
Beradaptasi dengan Lingkungan Baru
Ketika masuk sekolah baru, memulai pekerjaan, atau pindah tempat tinggal, seseorang perlu mengenali orang-orang dan kebiasaan yang belum ia kenal. Proses penyesuaian itu bisa membuat percakapan terasa kaku. Seiring waktu, sebagian orang mulai merasa lebih nyaman, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan dukungan tambahan.
Mengalami Pengalaman Sosial yang Tidak Menyenangkan
Pengalaman diejek, diabaikan, dipermalukan, atau mengalami perundungan dapat membuat seseorang lebih berhati-hati saat membangun hubungan. NIMH menjelaskan bahwa lingkungan dan pengalaman hidup dapat berperan dalam perkembangan kecemasan sosial, meskipun banyak faktor turut memengaruhinya. [3]
Jarang Mendapat Kesempatan Berlatih Komunikasi
Sebagian orang jarang mendapat kesempatan untuk berdiskusi, memperkenalkan diri, atau mengutarakan pendapat. Akibatnya, mereka mungkin merasa belum terbiasa berbicara dengan orang lain. Kondisi ini tidak berarti mereka tidak mampu menjalin hubungan. Mereka tetap bisa mengembangkan keterampilan komunikasi melalui latihan secara bertahap.
Merasa Harus Selalu Menarik di Hadapan Orang Lain
Sebagian orang merasa harus selalu lucu, pandai berbicara, atau membuat semua orang menyukainya. Tuntutan tersebut bisa mengubah percakapan menjadi sesuatu yang terasa seperti ujian. Padahal, hubungan yang sehat tidak menuntut siapa pun tampil sempurna pada setiap kesempatan.
Menghadapi Stres dan Lingkungan Sosial yang Tidak Aman
Stres, konflik keluarga, diskriminasi, perundungan, dan masalah kesehatan dapat memengaruhi kenyamanan seseorang saat berinteraksi. WHO menekankan bahwa faktor individual dan sosial sama-sama memengaruhi kesehatan mental. Jika seseorang berada dalam lingkungan yang tidak aman, kita tidak boleh hanya memaksanya lebih berani bergaul. Kita juga perlu membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman. [1]
Tanda Kesulitan Bersosialisasi Mengganggu Aktivitas Sehari-hari
Tidak semua kecanggungan sosial memerlukan pemeriksaan medis. Meski demikian, perhatikan jika Anda mengalami kesulitan yang menetap atau semakin berat, misalnya:
Menghindari Aktivitas Sosial
Seseorang memilih tidak menghadiri acara sekolah, membatalkan wawancara kerja, atau menolak undangan karena khawatir harus berhadapan dengan banyak orang.
Terlalu Memikirkan Penilaian Orang Lain
Sebelum menghadiri pertemuan, seseorang membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Setelah acara selesai, ia terus memikirkan apakah ucapan atau tindakannya membuat orang lain berpandangan negatif.
Merasa Takut Saat Berkomunikasi
Percakapan sederhana, seperti bertanya kepada kasir, menyampaikan pendapat dalam rapat, atau memperkenalkan diri kepada orang baru, dapat menimbulkan kecemasan yang berlebihan.
Kesulitan Menjalin Hubungan
Keinginan untuk memiliki teman dekat sering terhambat oleh rasa takut ditolak, dipermalukan, atau dianggap tidak menyenangkan.
Mengalami Reaksi Fisik Akibat Kecemasan
Ketika menjadi pusat perhatian, tubuh dapat bereaksi dengan mengeluarkan keringat berlebihan, membuat tangan gemetar, mempercepat detak jantung, atau menyebabkan suara terdengar bergetar.
Menilai Gejala dan Dampaknya pada Kehidupan
Gangguan kecemasan sosial dapat menimbulkan gejala tersebut, tetapi kondisi lain juga bisa menjelaskannya. Tenaga kesehatan perlu menilai gejala fisik sesuai keadaan medis masing-masing orang. NIMH dan NHS menganjurkan evaluasi profesional ketika rasa takut atau perilaku menghindar mulai menghambat sekolah, pekerjaan, dan hubungan pribadi. [3][4]
7 Cara Melatih Kepercayaan Diri Saat Bersosialisasi
Anda dapat mencoba langkah-langkah berikut untuk mengembangkan keterampilan komunikasi tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri. Anda tidak harus mempraktikkan semuanya sekaligus. Jika Anda merasakan kecemasan yang sangat berat atau menghadapi lingkungan sosial yang tidak aman, carilah dukungan alih-alih memaksakan diri.
1. Mulai dari Hubungan yang Terasa Aman
Pilih satu orang yang membuat Anda cukup nyaman untuk berbicara, misalnya teman sekelas, rekan kerja, saudara, atau tetangga yang ramah. Anda tidak perlu langsung menghadiri acara besar. Mulailah dengan percakapan singkat dalam suasana yang aman agar Anda lebih mengenali gaya komunikasi sendiri.
2. Siapkan Kalimat Pembuka yang Sederhana
Anda tidak harus selalu mencari topik yang menarik untuk memulai percakapan. Cobalah mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan situasi, seperti “Apakah tugas ini dikumpulkan hari ini?”, “Kamu sudah pernah datang ke kegiatan ini?”, atau “Bagaimana pendapatmu tentang materi tadi?” Setelah itu, dengarkan jawaban lawan bicara dan berikan tanggapan seperlunya.
3. Dengarkan Lawan Bicara dengan Penuh Perhatian
Saat gugup, kita sering terlalu memikirkan kemungkinan salah bicara. Alihkan perhatian kepada pesan yang ingin lawan bicara sampaikan. UNICEF menganjurkan kita untuk mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan terbuka, dan merespons tanpa menghakimi agar komunikasi terasa lebih empatik. [5]
Sebagai contoh, ketika teman berkata, “Aku sedang pusing dengan tugas,” Anda dapat menjawab, “Bagian mana yang paling sulit?” Pertanyaan sederhana seperti itu membantu Anda melanjutkan percakapan tanpa harus memberikan nasihat panjang.
4. Ajukan Pertanyaan Lanjutan yang Alami
Anda bisa membuat percakapan lebih mengalir dengan menanggapi informasi yang lawan bicara sampaikan. Jika ia bercerita tentang hobi membaca, misalnya, tanyakan, “Genre apa yang biasanya kamu baca?” Hindari memberikan terlalu banyak pertanyaan pribadi sekaligus. Perhatikan juga apakah lawan bicara ingin melanjutkan topik tersebut.
5. Berlatih Secara Bertahap melalui Langkah Kecil
NHS menjelaskan bahwa membagi situasi yang menantang menjadi langkah-langkah kecil dan mengenali pikiran saat cemas dapat membantu sebagian orang. [4]
Sebagai contoh latihan sehari-hari dari redaksi Pena Kopi, Anda dapat mulai dengan menyapa seorang rekan. Setelah merasa lebih nyaman, cobalah mengobrol selama dua menit, lalu ajukan satu pertanyaan dalam kelompok kecil. Redaksi tidak menyusun langkah ini sebagai protokol terapi atau target yang harus Anda capai dalam waktu tertentu. Sesuaikan kecepatan latihan dengan kebutuhan Anda dan mintalah pendampingan jika kesulitannya berat.
6. Hargai Waktu Istirahat dan Batas Pribadi
Keterampilan bersosialisasi yang baik tidak mengharuskan Anda menghadiri semua acara atau membalas pesan sepanjang hari. Anda boleh menolak undangan dengan sopan, misalnya, “Terima kasih sudah mengundang. Aku belum bisa ikut kali ini.” Hubungan yang sehat memberi ruang bagi setiap orang untuk beristirahat dan menetapkan batas pribadi.
7. Hargai Kemajuan, Bukan Kesempurnaan
Setelah berinteraksi, catat kemajuan kecil yang Anda capai. Mungkin Anda berhasil menyapa orang, mendengarkan cerita, atau menyampaikan pendapat. Jika percakapan terasa canggung, cari hal yang bisa Anda pelajari tanpa langsung menganggap diri sendiri gagal. Anda juga perlu mengelola stres, mencukupi waktu istirahat, dan mencari dukungan untuk menjaga kesejahteraan mental. [6]
Contoh Percakapan dalam Situasi Sosial Sehari-hari
Redaksi Pena Kopi menyusun tiga ilustrasi berikut sebagai contoh latihan komunikasi. Percakapan ini bukan transkrip wawancara atau kisah pasien.
Contoh 1: Berkenalan dengan Teman Kelas Baru
Rani: “Hai, aku Rani. Kamu juga ikut kelas tambahan hari ini?”
Dito: “Iya, baru pertama kali.”
Rani: “Sama. Kamu sudah tahu ruangannya di sebelah mana?”
Dito: “Sepertinya di lantai dua. Mau cari bareng?”
Mengapa cara ini membantu? Rani memulai percakapan dengan membahas pengalaman yang mereka alami bersama. Ia tidak perlu langsung membagikan hal pribadi untuk membuka hubungan baru.
Contoh 2: Bergabung dalam Percakapan Kelompok
Ayu: “Tadi kalian membahas tugas presentasi, ya?”
Teman: “Iya, kami sedang menentukan pembagian bagian.”
Ayu: “Kalau masih ada, aku bisa membantu merangkum sumber bacaan.”
Mengapa cara ini membantu? Ayu lebih dulu memastikan topik pembicaraan, lalu menawarkan bantuan yang jelas. Ia dapat ikut berkontribusi tanpa harus menjadi pusat perhatian.
Contoh 3: Menyampaikan Batas Saat Merasa Lelah
Teman: “Nanti malam ikut kumpul sampai larut, ya?”
Bima: “Terima kasih sudah mengajak. Aku mau istirahat malam ini, tapi kalau akhir pekan ada waktu, kabari aku.”
Mengapa cara ini membantu? Bima menyampaikan penolakannya dengan sopan dan tetap menghargai temannya. Kita membangun hubungan yang sehat bukan dengan selalu berkata “ya”, melainkan juga dengan menyampaikan batas pribadi secara jelas.
Latihan Refleksi 5 Menit untuk Memahami Hambatan Sosial
Luangkan lima menit setelah menghadapi situasi sosial untuk menjawab pertanyaan berikut. Redaksi Pena Kopi menyusun latihan ini sebagai alat refleksi pribadi, bukan sebagai tes psikologi.
Kenali Situasi dan Perasaan
Situasi: Apa yang terjadi? Contoh: “Saat rapat, pimpinan meminta aku memperkenalkan diri.”
Perasaan: Apa yang kurasakan? Contoh: “Aku merasa gugup dan takut salah bicara.”
Bedakan Pikiran dari Fakta
Pikiran: Dugaan apa yang muncul? Contoh: “Aku yakin semua orang akan menganggapku aneh.”
Fakta: Apa yang benar-benar kuketahui? Contoh: “Aku belum tahu pendapat mereka.”
Tentukan Kebutuhan dan Langkah Berikutnya
Kebutuhan: Apa yang akan membantuku? Contoh: “Aku bisa menyiapkan dua kalimat perkenalan.”
Langkah berikutnya: Tindakan kecil apa yang realistis? Contoh: “Aku akan menyapa satu rekan lebih dulu.”
Catatan seperti ini dapat membantu Anda mengenali pola pikiran dan perilaku. NHS juga menyarankan refleksi atau catatan singkat sebagai salah satu bentuk bantuan diri awal untuk kecemasan sosial. Namun, jangan menggunakan latihan ini untuk menentukan diagnosis. [4]
Cara Mendukung Teman atau Keluarga yang Sulit Bersosialisasi
Hindari Label dan Komentar yang Menghakimi
Jika Anda melihat teman atau anggota keluarga jarang berbicara, hindari komentar seperti “Kamu antisosial” atau “Jangan lebay, tinggal ngobrol saja.” Komentar tersebut tidak membantu Anda memahami pengalaman mereka dan justru bisa menambah rasa malu.
Dengarkan Kebutuhan dan Tawarkan Dukungan
Sebagai gantinya, ajukan pertanyaan tanpa memaksa, seperti “Kamu nyaman ikut kegiatan ini, atau ingin ditemani dulu?” Beri mereka kesempatan untuk menjelaskan kebutuhan, dengarkan jawabannya, hormati pilihan yang aman, dan tawarkan bantuan yang konkret. UNICEF menekankan pentingnya komunikasi empatik, mendengarkan secara aktif, dan memberi ruang kepada orang yang belum siap bercerita. [5]
Bantu Mencari Lingkungan yang Aman
Jika teman menghadapi perundungan atau ancaman, bantu ia mencari dukungan dari orang tepercaya dan lingkungan yang lebih aman. Jangan meminta seseorang menghadapi keadaan berbahaya hanya untuk membuktikan keberaniannya.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Psikolog atau Dokter?
Saat Rasa Takut Menghambat Kegiatan Penting
Pertimbangkan untuk menemui dokter, psikolog, atau psikiater jika ketakutan bersosialisasi terus muncul, semakin berat, atau mendorong Anda menghindari sekolah, pekerjaan, berbelanja, dan kegiatan penting lainnya. Tenaga profesional dapat menilai gejala, memahami keadaan hidup Anda, serta memeriksa kemungkinan kondisi lain yang perlu mendapat penanganan. [2][3][4]
Penanganan Sesuai Kebutuhan
Tenaga kesehatan memiliki beberapa pilihan penanganan berbasis bukti untuk gangguan kecemasan sosial. NIMH dan NHS menjelaskan bahwa tenaga profesional sering menggunakan terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy/CBT) untuk membantu orang yang mengalami gangguan kecemasan sosial. Tenaga profesional juga dapat mempertimbangkan penanganan lain sesuai kebutuhan setiap orang. Latihan komunikasi dalam artikel ini tidak menggantikan terapi profesional. [3][4]
Mengakses Layanan dan Pertolongan Darurat
Di Indonesia, Anda dapat mengunjungi puskesmas atau dokter yang biasa Anda datangi untuk menanyakan layanan kesehatan jiwa maupun pilihan rujukan. Jika Anda memiliki pikiran untuk menyakiti diri, menghadapi ancaman keselamatan, atau mengalami keadaan darurat, segera datangi IGD atau fasilitas kesehatan terdekat dan hubungi orang tepercaya agar dapat mendampingi Anda.
Pertanyaan Umum tentang Kesulitan Bersosialisasi
Apakah Orang Pendiam Pasti Memiliki Masalah Kesehatan Mental?
Tidak. Sifat pendiam menggambarkan perilaku, bukan diagnosis. Kita perlu memperhatikan apakah seseorang merasa nyaman, ingin menjalin hubungan, dan mengalami hambatan dalam aktivitas sehari-hari. [1][3]
Apakah Introvert Sama dengan Gangguan Kecemasan Sosial?
Tidak. Orang yang menikmati waktu sendiri atau lebih menyukai kelompok kecil belum tentu mengalami rasa takut yang kuat terhadap penilaian orang lain. Jika rasa takut itu sampai mengganggu kehidupan, tenaga profesional perlu melakukan penilaian untuk memastikan penyebabnya. [3][4]
Mengapa Saya Gugup Saat Bertemu Orang Baru?
Lingkungan dan orang yang belum Anda kenal dapat memicu rasa gugup. Namun, rasa gugup sesekali tidak otomatis menunjukkan gangguan mental. Perhatikan seberapa sering Anda mengalaminya, bagaimana Anda menyesuaikan diri, dan apakah rasa gugup mulai menghambat kegiatan penting. UNICEF juga menjelaskan bahwa manusia dapat merasakan kecemasan sesekali; kita perlu membedakannya dari kecemasan yang mengganggu keseharian. [4][7]
Apakah Keterampilan Bersosialisasi Bisa Dilatih?
Bisa. Anda dapat mengasah keterampilan mendengarkan, bertanya, dan menyampaikan kebutuhan melalui latihan. Namun, jika Anda terus mengalami ketakutan yang sangat kuat, pertimbangkan bantuan profesional daripada hanya memaksa diri untuk berlatih. [3][5]
Apakah Harus Punya Banyak Teman agar Kesehatan Mental Baik?
Tidak. Kita tidak dapat mengukur kesejahteraan mental seseorang hanya dari jumlah teman. Hubungan yang aman, saling menghargai, dan sesuai kebutuhan pribadi dapat memberi makna lebih besar daripada banyaknya kontak sosial. WHO menjelaskan bahwa lingkungan dan hubungan sosial yang positif turut mendukung kesehatan mental. [1]
Penutup: Bersosialisasi Tanpa Harus Menjadi Orang Lain
Seseorang bisa mengalami kesulitan bersosialisasi karena merasa canggung, menghadapi perubahan lingkungan, memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan, atau merasakan kecemasan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Kita tidak perlu menganggap semua kesulitan itu sebagai kelemahan pribadi. Cobalah memahami penyebabnya, memilih langkah yang sesuai dengan kemampuan, dan meminta dukungan saat membutuhkannya.
Anda tidak harus menjadi orang paling ramai di ruangan untuk membangun hubungan yang baik. Mulailah dengan menyapa secara tulus, mendengarkan dengan perhatian, menghargai batas orang lain, dan merawat hubungan yang penting bagi Anda. Jika rasa takut terus menghalangi aktivitas, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.
Bacaan Terkait di Pena Kopi
Ruang Rasa: Cara Mengenali Emosi dan Memahami Perasaan Diri — https://penakopi.com/2026/09/21/ruang-rasa-tempat-sunyi-mengenali-emosi/
Sumber dan Referensi
[1] World Health Organization (WHO). “Mental health” (11 September 2026). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response
[2] Kementerian Kesehatan RI — Ayo Sehat. “Gangguan Kecemasan Sosial”. https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/kelainan-mental/gangguan-kecemasan-sosial
[3] National Institute of Mental Health (NIMH). “Social Anxiety Disorder: What You Need to Know” (diperbarui 2025). https://www.nimh.nih.gov/health/publications/social-anxiety-disorder-more-than-just-shyness
[4] National Health Service (NHS). “Social anxiety (social phobia)” (ditinjau 17 Mei 2023). https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/social-anxiety/
[5] UNICEF Indonesia. “11 Kiat Berkomunikasi dengan Remaja” (18 Februari 2023). https://www.unicef.org/indonesia/id/kampung-pengasuhan/kesehatan-mental/artikel/tips-berkomunikasi-dengan-remaja
[6] World Health Organization (WHO). “Doing What Matters in Times of Stress: An Illustrated Guide” (29 April 2020). https://www.who.int/westernpacific/publications/i/item/9789240003927
[7] UNICEF Indonesia. “Apa itu kecemasan?”. https://www.unicef.org/indonesia/id/kesehatan-mental/artikel/kecemasan